
Makassar, 24 Februari 2025 – Bollo.id bersama Trend Asia, Antologi Manusia, dan Rumata’ Artspace menggelar Tudang Sipulung dan Diskusi Publik tentang hilirisasi nikel di Indonesia serta dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan. Acara ini menjadi ruang bagi masyarakat terdampak untuk berbagi cerita dan pengalaman mereka mengenai kondisi lingkungan di sekitar kawasan industri.
Kegiatan tudang sipulung diawali dengan pembukaan dan pengantar oleh fasilitator Adi Anugrah Pratama dari Trend Asia, yang memperkenalkan para narasumber dari tiga lokasi terdampak tambang yang berbeda. Narasumber yang hadir antara lain Kak Mando, penyintas dan pegiat lingkungan dari Pulau Wawonii; Ibu Guru Mina dari Aliansi Pejuang Lingkungan dan Alam Torobulu; serta Bapak Ramli, warga terdampak smelter nikel Bantaeng
Dalam kesempatan ini, Kak Mando menceritakan peliknya situasi di Wawonii akibat tambang yang merusak lingkungan. “Kami sering dikriminalisasi, bahkan saya sendiri pernah mengalaminya. Tetapi berkat semangat dan perjuangan kami masyarakat Wawonii, kami berhasil membatalkan izin tambang beberapa perusahaan,” ujarnya.
Sementara itu, Ibu Guru Mina menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah yang dinilai abai terhadap lingkungan dan ruang hidup masyarakat. “Banyak ruang hidup kami yang rusak, dan kami justru dikriminalisasi ketika memperjuangkan hak atas lingkungan yang sehat,” tegasnya.
Bapak Ramli, sebagai warga Papan Loe yang berbatasan langsung dengan smelter nikel di Bantaeng, juga mengungkapkan keresahannya. “Sampai kapan pemerintah akan abai terhadap kami? Apa jika perusahaan itu (Huadi Grup) tetap ada, kami akan terus merasakan dampaknya?” tanyanya.
Investigasi Dampak KIBA
Pada tahun 2024, Bollo.id bersama Trend Asia telah meluncurkan laporan investigasi terkait dampak kesehatan dari Kawasan Industri Bantaeng terhadap warga sekitar. Laporan ini membuktikan bahwa polusi udara di kawasan tersebut telah melewati ambang batas yang ditetapkan oleh pemerintah, sebagaimana terungkap dalam dokumen internal perusahaan.
Dalam rangkaian acara tahun ini, Bollo.id, Trend Asia, Antologi Manusia, dan Rumata’ Artspace berkolaborasi menciptakan proyek seni pertunjukan dan instalasi bertajuk Fermentasi Radiasi selama tiga hari, yaitu pada tanggal 21, 22, dan 23 Februari. Tudang Sipulung dan Diskusi Publik menjadi bagian dari rangkaian acara ini, bersama dengan panggung bebas ekspresi sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Tudang Sipulung: Ruang Interaktif bagi Warga dan Komunitas
Titik temu inilah menjadi pijakan awal sehingga diadakannya Tudang Sipulung. Para warga saling dipertemukan. Tudang Sipulung adalah salah satu rangkaian dari kegiatan Fermentasi Radiasi, sebuah platform pertunjukan yang menyilangkan seni, jurnalistik, pertunjukan, dan instalasi seni yang berorientasi pada riset, cahaya, gerak, dan bunyi. Tudang Sipulung menjadi lingkaran interaktif untuk menciptakan ruang dialog antara warga, komunitas, dan berbagai pihak terkait.
Selain menjadi ajang pertemuan antarwarga, Tudang Sipulung ini juga mempertemukan beragam komunitas lintas sektor, termasuk seniman, aktivis, jurnalis, masyarakat urban, pembela HAM, dan pekerja film. Program ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak kerugian yang dialami langsung oleh warga setempat akibat kerja-kerja industri nikel. Upaya ini dilakukan agar audiens dapat saling mendengarkan, berbagi pengalaman, serta mengupayakan kampanye bersama dan menyusun strategi kolektif.
Sebagai bagian dari upaya ini, Yayasan Bumi Toala Indonesia turut hadir dalam kegiatan ini. Kehadiran YBTI menjadi bagian dari visi besar yayasan untuk mewujudkan kelestarian ekosistem dan kemajuan peradaban demi keadilan lintas generasi serta persahabatan terhadap semua spesies. Dengan pendekatan yang berbasis pada peradaban dan lingkungan, Yayasan Bumi Toala Indonesia berperan dalam mendukung inisiatif yang mendorong kesadaran ekologis serta perlindungan lingkungan bagi masyarakat terdampak.
Diskusi Publik: Mengupas Dampak Industri Nikel
Diskusi publik dalam acara ini menjadi ruang bagi para narasumber untuk mengupas dampak industri nikel dari berbagai perspektif. Bollo.id menyoroti bagaimana Kawasan Industri Bantaeng memiliki dua pelanggaran utama, yaitu masuknya kawasan ini dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mengabaikan kajian lingkungan serta keterlibatan klinik kesehatan dengan perusahaan Huadi yang menimbulkan kekhawatiran atas independensi layanan kesehatan.
Dari perspektif lingkungan, Balang Institute mengungkap bagaimana kawasan yang sebelumnya merupakan penghasil batu bata dan eksportir ikan kini mengalami krisis air akibat aktivitas industri. Sebanyak 37 sumur warga telah mengering, 120 bantilan hilang, serta limbah air dari perusahaan merusak bibit rumput laut. Sejak 2021 hingga 2024, telah tercatat lima korban jiwa akibat aktivitas industri di kawasan ini.
Prohealth turut mengungkap temuan di lapangan mengenai dampak kesehatan dan sosial akibat pencemaran dari smelter. Banyak warga mengalami batuk berkepanjangan, sementara rumput laut di wilayah tersebut membusuk. Warga pun kehilangan kepercayaan terhadap layanan puskesmas yang dinilai berpihak pada perusahaan. Selain itu, pihak perusahaan diketahui telah berupaya membeli rumah warga dengan harga murah, namun warga menolak menjual rumah mereka.
LBH Makassar membahas revisi Undang-Undang Minerba yang mempermudah pemberian izin tambang, termasuk beberapa pasal yang memperpanjang eksplorasi serta membuka ruang bagi penambangan di sungai dengan luas maksimal 100 hektar. Sementara itu, Trend Asia menjelaskan bagaimana Proyek Strategis Nasional (PSN) sering kali mengabaikan penilaian lingkungan yang komprehensif, menyebabkan kerusakan ekosistem, hilangnya mata pencaharian masyarakat, dan pemindahan paksa tanpa konsultasi yang memadai.
Kesimpulan: Hilirisasi Nikel, Dari Hulu ke Hilir
Dampak kerusakan tambang nikel dirasakan dari hulu ke hilir. Hilirisasi yang dicanangkan pemerintah tampak lebih sebagai upaya yang merugikan masyarakat secara menyeluruh, mulai dari eksploitasi sumber daya alam hingga dampak lingkungan dan kesehatan yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar kawasan industri.
Kegiatan ini ditutup dengan pemutaran perdana film “Republik Rente” yang diproduksi oleh Bloody Nickel dan Antologi Manusia. Film ini menggambarkan realitas kehidupan masyarakat yang terdampak oleh industri ekstraktif, memberikan perspektif lebih dalam mengenai dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang ditimbulkan oleh industri nikel.
writer: Wa ode Nur Ilmi Fawziah & zulfikar


